Tips Agar Tidak Menjadi Kaum Sumbu Pendek Di Social Media

Share via FB,Twitter, & Google+ !

Siapa Sich Kaum Sumbu Pendek?

Saya kira kita perlu adil, siapa sich kaum sumbu pendek ini? Jika saya telusuri di internet, tergantung siapa yang mengatakannya. Ada yang menuduh bahwa umat Islam banyak yang sumbu pendek. Tapi saya kira tidak, bukan umat Islam saja, agamanya apa pun ada saja yang memiliki mental sumbu pendek.

Tips Agar Tidak Menjadi Kaum Sumbu Pendek Di Social Media

Ini masalah karakter setiap orang, terlepas apa pun agamanya.

Pada intinya orang-orang yang memiliki karakter “mudah meledak”. Memang isu-isu agama sangat mudah memancing orang-orang yang memiliki kecintaannya terhadap agamanya masing-masing. Saat agamanya merasa disudutkan, langsung bereaksi.

Reaksinya macam-macam, bisa langsung komentar marah, langsung share, langsung membully, dan sebagainya. Langsung artinya cepat bereaksi. Bahkan, kadang baru melihat judul berita saja langsung emosi. Sementara ada orang yang suka membuat judul yang memancing yang justru berlawanan dengan isinya.

Dalam hal ini, saya tidak akan menyudutkan siapa-siapa, terlepas siapa Anda. Yang jelas, memiliki sikap mental sumbu pendek itu tidak bagus, karena bisa menimbulkan fitnah, menyebarkan berita yang belum jelas, dan memperkaya orang yang memanfaatkan mental seperti ini.

Kita tetap harus membela keyakinan kita, mudah-mudahan kita bisa melakukannya dengan lebih baik.

Kunci Melepaskan Diri Dari Bagian Kaum Sumbu Pendek

Kuncinya adalah mengendalikan emosi. Mungkin kita marah dan tersinggung melihat status atau tweet seseorang. Apalagi berhubungan dengan agama kita masing-masing. Namun, bereaksi cepat tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan bisa bumerang, saat ternyata yang kita respon itu berita yang salah.

Coba tenang. Kendalikan diri. Kadang saya menunggu perkembangan, tidak selalu langsung merespon apa yang terjadi. Saya cari sumber lain, saya teliti. Sampai saya benar-benar memahami lebih jelas tentang apa yang terjadi.

Kadang itu sulit. Karena berita di internet begitu simpang siurnya. Sementara berita di media  mainstream pun tidak dijamin kebenarannya. Jadi benar-benar harus dengan analisa dan pemikiran matang. Coba tanya orang-orang yang dipercaya memiliki banyak akses informasi.

Sekali lagi, saya tidak melarang menyuarakan kebenaran. Silahkan, bahkan saya setuju dan saya dukung karena itu memang harus. Tapi pastikan dulu apa yang kita sampaikan itu adalah memang-memang kebenaran.

Lawan opini sesat! Tetapi kita pun jangan tersesat.

Tabayun dan verifikasi kebenaran menjadi sebuah hal yang penting.

Sebagai contoh, saat ada informasi sebuah produk mengandung unsur babi, dengan “meyakinkan” penulis membuat pernyataan bahwa kode tertentu itu terbuat dari babi. Saya coba verisikasi di internet, ternyata kode tersebut tidak selalu dari babi. Kode tersebut kode jenis bahan, bukan kode bahan baku.

Dengan menyebar berita yang tidak jelas itu, banyak pihak didzalimi, mulai dari pemilik merk, karyawan, pemasar, bahkan para ulama MUI pun kena karena mereka sudah membubuhkan tanda halal.

Jangan Langsung Percaya dan Langsung Menolak

Kadang kalau seseorang menerima berita negatif tentang seseorang dari kelompok yang bersebrangan, dia langsung percaya. Mungkin dalam pikiran memang sudah ada prasangka kalau orang yang ada di dalam kelompok itu pasti salah. Dia langsung share bahkan membumbui dengan kata-kata pedas (padahal tidak pakai cabe, he he).

Sementara kalau berita jelek itu tentang seseorang dalam kelompoknya, dia langsung menolak. Itu fitnah katanya, bahkan tidak jarang menuduh pihak tertentu melakukan fitnah tersebut.

Padahal peristiwa sama bisa menghasilkan persepsi berbeda. Sebagai contoh saat ada orang yang pergi meninggalkan parkiran tempat maksiat, persepsi yang muncul bisa beda-beda. Dan kebanyakan orang memilih yang ingin dia lihat atau dengar.

Bisa jadi, orang itu kehabisan tempat parkir, terpaksa parkir disana padahal tujuannya ke tempat lain. Bisa jadi dia tidak tahu kalau itu adalah tempat maksiat.

Sayanganya, jika orang itu orang yang kita benci, kita lebih memilih persepsi atau prasangka yang buruknya. “Pasti dia baru saja melakukan maksiat.” Padahal dia sama sekali tidak melihat itu, hanya anggapan saja.

Jika kita tidak benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri, semuanya bisa salah. Saat seseorang divonis bersalah oleh hakim, itu tidak menjamin orang itu benar-benar salah. Kecuali Anda benar-benar melihat dia dengan mata kepala sendiri melakukan kesalahan itu.

Buka Pikiran Sebelum Membuka Mulut

Aplikasinya dalam social media, sebelum Anda menulis status, share berita, menulis tweet, berkomentar, dan sebagainya, pikirkan dulu bahwa apa yang Anda lakukan itu adalah sebuah kebenaran atau sebuah kebaikan. Jika tidak pasti, lebih baik diam.

Jadi Harus Menjadi Sumbu Panjang? Tidak Juga!

Sumbu panjang pun akhirnya meledak juga jika tersulut. Jadi harus apa? Kata AA Gym, kita boleh marah, tetapi marahlah secara proporsional dan secara adil. Adil itu menempatkan kemarahan pada tempatnya.

Penutup

Kita memang harus menyuarakan kebenaran, tetapi lakukan dengan cara benar pula. Jangan sampai dengan maksud menyuarakan kebenaran, malah menjadi bumerang karena merusak citra diri kita sendiri.

Lanjutkan kritis, lanjutkan menyuarakan kebenaran, tapi dengan cara yang benar.

Lawan opini sesat, tapi kita jangan sampai tersesat.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *